Untuk memastikan kondisi pertanaman padi di lapangan, Prof. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, mengumpulkan informasi dari petani ang gota Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) yang tersebar di berbagai daerah. Data yang berhasil mereka himpun, luas serangan wereng dan penggerek di seluruh Indonesia kurang lebih seluas 500 ribu ha.

“Jumlah ini lebih banyak da ri yang dinyatakan Mentan hanya sekitar 1.000 ha lahan padi yang terserang wereng,” ujar Andreas pada acara “Dialog Kesejahteraan Petani Padi” yang digelar Yayasan Pataka, 21 Juni silam. Bila dikalkulasi, 500 ribu ha pertanaman padi berarti sekitar 3,5 juta ton gabah setara 1,7 ton beras hilang. Doktor jebolan Jerman itu menegaskan, kasus tersebut harusnya menjadi perhatian yang serius. Sekadar contoh ia menyebut, tim AB2TI yang melakukan pengamatan pertanaman padi Juni lalu di Ngan juk, Jawa Timur, menemukan 200- 400 ekor/rumpun wereng cokelat (Nila – parvata lugens) baru menetas. Jauh di atas ambang ekonomi yang hanya satu ekor/ rumpun karena wereng cokelat sebagai vektor virus.

Penurunan Produksi

Ancaman terhadap produksi tidak hanya terjadi di Jawa Timur, tapi hampir merata di Pulau Jawa. Agus Suryanto, Rice Crop Manager PT Bina Guna Kimia menuturkan, “Sebelum bulan puasa (Juni) serangan wereng memang sangat parah,” katanya. Syukurlah, mendekati pertengahan Juni, menurut dia, serangan berkurang setengahnya karena sudah banyak padi yang dipanen. Serangan wereng masih terlihat di daerah pantura Jawa Barat seperti Cirebon dan Indramayu, Sukabumi, Cilacap, Bojonegoro, Tuban, Ponorogo, dan Tulungagung. Menurut Agus, siklus wereng tidak berhenti lantaran musim tanam tidak serempak. Di daerah Subang, Jawa Barat, wereng hijau (Nephotettix nigricans) yang membawa virus tungro menyerang 50% daerah sentra padi tersebut.

Petani padi skala kecil asal Indramayu, Winiarta mengonfirmasi adanya penurunan produksi. “Hasil produksi padi yang biasanya 6-7 kuintal, sekarang cuma dapat 2 kuintal. Sepertinya karena cuaca atau penyakit,” ceritanya. Sebagian petani di daerahnya yang biasa mampu memproduksi 6 ton, sekarang hanya panen 4 ton/ha. Margiyono, petani di Kulonprogo, DIY, membenarkan terjadinya penurunan produksi, khususnya tiga tahun terakhir. “Menurut saya bantuan bibit dari pemerintah tidak layak. Lahan pertanian itu beda-beda, maka varietasnya harus sesuai,” duga petani yang juga pengusaha penggilingan padi itu.

Masih Ada Harapan

Memang, tidak semua petani gagal berproduksi. Haji Bana di Indramayu misalnya. “Terakhir panen padi Ciherang taiwan bulan Mei, masih dapet 10 ton/ha,” terang pemilik lahan lebih dari 3 ha ini. Senada dengan Margiyono, ia pun berpendapat, bantuan benih dari pemerintah kurang bagus kualitasnya sehingga tanaman padi tidak tumbuh merata. Jadi, ia lebih memilih membeli benih sendiri. Haji Bana melakukan perawatan intensif terhadap tanamannya. Sebelum dibibit kan, benih direndam dulu dengan pestisida yang tepat. Ia juga menyiapkan lahan secara intensif dan me nambahkan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah dan kemasam an tanah (pH). Menurut Haji Bana, lahan pertanian sudah semakin “sakit” sehingga ia berpesan agar petani lain melakukan perbaikan dengan aplikasi bahan organik. Selain itu, juga mengganti varietas padi dan bahan aktif pestisida yang biasa digunakan untuk mencegah terjadinya kekebalan dan ledakan hama penyakit.