Beras yang dulu dipersepsikan sebagai komoditas pertanian, mulai beberapa tahun terakhir menjelma menjadi produk konsumen (consumer goods). Hal ini terlihat dari penyajian yang meliputi: “branding”, pengemasan produk yang lebih menarik dan disesuaikan kebutuhan rumah tangga/personal. Kualitas produk yang selalu ditingkatkan menyesuaikan kebutuhan konsumen dan “positioning” harga (termasuk di dalamnya promosi, dan sebagainya). Selain itu, peritel telah menempatkan kategori rice & cereal sebagai salah satu kategori yang “must have to be provided” (wajib disediakan) untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar pembelinya.

Sebanyak 70%-80% pembeli di pasar ritel modern adalah wanita dewasa/menikah. Kategori rice & cereal umumnya diperankan sebagai “routine”. Peritel modern menetapkan kategori ini sebagai transaction builder (menciptakan transaksi penjualan). Karena itu, peritel menyediakan produk beras dengan berbagai varietas, kemas an, merek (baik manufacturer brand maupun private label/house brand), penempatan display beras di bagian belakang gerai, dan positioning harga kompetitif (realistic price) dibandingkan pesaingnya. Hal itu juga mengacu sifat beras sebagai produk yang tidak elastis. Artinya, tingkat konsumsinya relatif tidak dipengaruhi oleh harga.

Pembeli memilih beras kemasan dari perusahaan berharap memperoleh beras yang berkualitas baik (kebersihan, warna, keseragaman bulir, kepulenan, dan aroma). Kualitas beras tersebut merupakan pertimbangan utama dalam proses pembelian di pasar modern, di samping jenis beras sebagai pertimbangan awal sebelum menentukan merek. Hal ini menunjukkan merek bukan merupakan pertimbangan awal dari proses pembelian kategori rice & cereal. Jadi, produk beras merupakan pro duk yang bersifat “repertoire” artinya pembeli/konsumen tidak loyal terhadap merek atau brand. Jadi, masih terbuka lebar peluang bagi pemain atau pemasok baru beras di pasar ritel modern. Dari catatan penulis, terlihat ada dua merek favorit pembeli atau konsumen, yaitu: si Pulen dan Topi Koki. Kedua merek ini menguasai pangsa pasar ritel modern di Indonesia lebih dari 65%, sedangkan sisanya merek lain, termasuk private label/house brand. Penguasaan pangsa pasar yang besar ini terasa sangat wajar karena pemasok beras di pasar ritel modern belum banyak.

Melihat peluang bisnis tersebut, beberapa produsen besar beras premium telah menanggapinya dengan berbagai upaya. Misalnya, menjalin kerjasama dengan kelompok petani dan mela kukan berbagai perbaikan sistem atau pro ses atau infrastruktur di tingkat petani de ngan tujuan mening katkan produktivi tas lahan, luasan lahan, dan kualitas beras mulai dari penanam an sampai pascapanen. Hal tersebut bertujuan meningkatkan jumlah pasokan dan kualitas yang telah ditetapkan. Selain itu, para pemasok besar berupaya memperluas jejaring dan pangsa pasar (baca: saluran distribusi), baik pasar ritel modern nasional mau pun lokal. AC Nielsen mencatat, penjualan merek Topi Koki di pasar ritel modern hingga 67,67%, pa sar tradisional 28,41%, dan penjualan online 3,92%.Topi Koki di kuartal I-2015 menguasai pang sa pasar produk beras di pasar modern sekitar 35%, sedangkan pada periode serupa 2014 masih 27%. Pemasok lain, yaitu PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) juga mulai mengandalkan produk beras premium. Tiga Pilar menargetkan kontribusi penjualan beras premium pada 2016 mencapai 40% dari total penjualan berasnya.