Gejolak harga cabai seperti tidak ada habisnya. Di pasar bebas, harga menjadi-jadi saat persediaan cabai sangat terbatas. Bahkan, di beberapa daerah harga cabai rawit merah atau sering disebut rawit setan saking pedasnya, bervariasi di atas Rp100 ribu/kg. Pun di Jakarta, laman Info Pangan Jakarta per 3 Maret lalu mencantumkan harga rawit merah Rp143.785/kg.

Di sisi lain, harga cabai besar yang memang porsi penanam annya lebih banyak ketimbang cabai rawit, masih dalam batas wajar, Rp43 ribuan/kg. Dadi Sudiana, Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), mengungkap, persentase penanaman cabai besar dengan cabai rawit secara nasional sekitar 70%:30%. “Gejolak harga seperti ini sudah lama. Tapi belakangan kan harga cabai rawit tinggi tidak turun-turun. Itu memang karena petaninya sedikit plus produksinya drop,” terang Dadi kepada AGRINA (8/2).

Bagi-bagi Bibit

Menurut Dadi, permasalahan cabai bolak-balik itu saja, gagal produksi karena hama dan penyakit. “Harus fokus ke situ, jangan bilang ada mafia. Cabai itu tidak bisa disimpan lama karena cepat busuk, tidak seperti bawang,” tandas pria yang menjadi Ketum AACI sejak 2008 itu. Melihat kondisi cuaca setahun ke belakang, fenomena La Nina yang melanda Indonesia menyebabkan lebih banyak hujan. Ajat Sudrajat dari PT Setia Bersama mengatakan, pada kondisi basah ini cendawan memicu berkembangnya penyakit. “Biasanya, penyakit yang menyerang adalah bercak daun dan penyakit layu,” terang Supervisor Agronomis perusahaan pupuk tersebut.

Selain itu, penyakit busuk buah juga banyak ditemukan di lapangan. Bak kebakaran jenggot karena cabai rawit produksinya rendah, Kementan berencana membagikan 10 juta bibit untuk ibu-ibu di seantero negeri. Bahkan, pembagian bibit juga dilakukan di perkotaan. “Lahan bisnisnya orang desa diambil orang kota. Bantuan yang tidak tepat bisa mematikan ekonomi petani cabai di pedesaan. Itu sudah tidak sesuai dengan misi Kementan yang ingin menyejahterakan petani,” kritik Dadi pedas. Melambungnya harga cabai rawit merah merangsang masuknya impor cabai ke Jawa Timur. Petani yang enggan disebut namanya ketika diwawancarai AGRINA mengaku terimbas masuknya impor ke pasar. “Tidak ada yang peduli kalau harga komoditas di bawah HPP (Harga Pokok Produksi).

Pemerintah atau importir tidak peduli dengan keuntungan petani. Maunya serba murah,” sergahnya kesal. Melihat kondisi tersebut, Dadi menyarankan pembenahan sistem agribisnis cabai yang melibatkan sinergi semua stakeholders. “Supaya fair, saya maunya Bank Indonesia jadi koordinator untuk memfasilitasi sinergi agribis nis. Jangan Kementan atau Kemendag yang mengurusi masalah teknis karena ini berhubungan dengan kepentingan BI juga, masalah inflasi,” pintanya.