Sungguh malang nasib peternak ayam petelur. Sudah lama mereka berkeluh kesah karena harga jual telur tidak kunjung membaik. Kini penderitaan mereka bertambah dengan merebaknya penyakit AI. Kendati tidak seperti AI akibat virus H5N1 yang menimbulkan kematian dalam jumlah besar, AI sekarang ini tidak kalah merugikan.

“Ini sudah minggu ke-10 ayam saya terkena AI. Memang nggak ada yang mati sih tapi produksi turun aja. Turunnya mengerikan, dari produksi 90% lalu turun terus sampai 40% bahkan 30%. Terus nanti naik lagi sedikit, tapi nggak bisa balik sampai 90% lagi,” ungkap Leopold Halim, pete nak petelur di Tangerang, Banten, yang juga Sekjen Pinsar ketika dihubungi AGRINA via telepon, 8 Juni 2017.

Celakanya lagi, lanjut Atung, begitu ia biasa dipanggil, AI yang sekarang merebak ini tidak pandang umur ayam, muda tua bisa terserang, kecuali pullet (ayam dara). Peternak senior ini mengeluhkan hingga sekarang pemerintah tidak mengakui adanya kasus AI yang diduga disebabkan virus H9N2 tersebut. Padahal, me- nurut Atung, penyebaran penyakit ini su- dah cukup luas, dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Sementara itu Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita, ketika dimintai komentar oleh AGRINA melalui pesan singkat, baru merespon, “Wait (tunggu)” (9/6). Apakah pengalaman kegagalan mencegah penyebaran wabah AI ganas H5N1 dulu pada 2003 mau diulangi pemerintah?

Menunggu Vaksin

Menurut Teguh Y. Prajitno, “Sejak Januari 2017 kasus H9N2 sudah kami temukan. Dan sekarang sudah meluas dari Sumatera hingga Jawa Timur dan Sulawesi.” Virus ini pada dasarnya menyerang semua ayam pada semua umur yang tanpa antibodi.

Namun yang paling nyata adalah penurunan produksi pada ayam yang sedang bertelur, yaitu petelur dan breeder. Pada broiler, hanya sebatas mengganggu respirasi tapi bisa juga bersinergi infeksi dengan agen penyakit lain sampai mematikan. Namun kematiannya tidak banyak hanya berlangsung seminggu lalu berhenti.

Di lapangan, lanjut Direktur PT Vaksindo itu, peternak menyebutnya fenomena 90/40/60, maksudnya penurunan produksi dari 90% menjadi 40%, lalu naik lagi hanya sampai 60%. “Jangan anggap H9 ini LPAI (low pathogenic avian influenza) nggak perlu ditangani. Justru kerugian komersialnya kan luar biasa karena penurunan produksi,” sergahnya.

Bukan hanya itu, virus H9 ini termasuk yang paling mudah bercampur dengan virus AI yang lain. Ada kemungkinan kombinasi virus tersebut berubah menjadi bersifat zoonosis (menular ke manusia).

Wabah AI patogenisitas rendah ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan pemantauan Teguh, kasus yang sama juga merebak di Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Myanmar.

Jangan Terlambat

Menghadapi kasus tersebut, Teguh, menyarankan vaksinasi. Sayangnya, sampai naskah ini diturunkan pemerintah belum selesai melakukan penelitian tentang virus penyebabnya. Padahal, pihaknya sudah mendapatkan data pasti bahwa H9N2 ini menurunkan produksi dua hari setelah uji tantang.

Vaksindo siap memproduksi vaksin baru bila telah ada lampu hijau dari pemerintah. Sementara belum ada vaksin, Doktor biologi molekuler lulusan Jerman tersebut, menganjurkan, peternak untuk memaksimalkan biosekuriti.

Kondisi ketiadaan vaksin yang legal dan cocok dengan virus yang tengah melanda ini cukup mengganggu bagi peternak. Bahkan di antara mereka sudah menggunakan vaksin ilegal dari Korea meskipun kurang efektif

Langkah lebih cepat pemerintah sangat ditunggu. Jangan sampai pengalaman pahit peternak akibat keterlambatan pengendalian AI H5N1 terulang kembali.