Categories
Pertanian

Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045?

“Kita sangat bergembira bahwa Kementerian Pertanian sudah punya ide besar. Ide mengenai pertanian dan pangan pada 2045, tepat seratus tahun Republik Indonesia. Ide besar ini baru dapat terwujud jika dapat dibuat konsep sinergi kemitraan antara pemerintah, pengusaha, dan petani,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA. Seperti apa idenya? Indonesia menjadi lumbung pangan dunia 2045. Indonesia diimpikan menjadi produsen utama komoditas pangan dunia, seperti padi, jagung, kedelai, daging sapi, daging ayam, cabai, dan bawang merah serta menjadi pengekspor utama komoditas kelapa sawit, karet, dan kakao. Dalam peta jalannya komoditas pangan tersebut ditargetkan swasembada pada 2016 untuk padi, 2017 untuk jagung, 2019 untuk gula konsumsi, 2020 untuk kedelai, 2025 untuk gula industri, 2026 untuk daging sapi dan 2033 untuk bawang putih. Sayangnya, mimpi atau cita-cita yang disusun tersebut masih kabur. Di situ tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan lumbung pangan serta bagaimana sistem pertanian dan pangan beserta logistiknya? Semua itu perlu dirumuskan sekalipun rumusan itu bisa saja diubah dalam perjalanannya. Dengan adanya rumusan tersebut kita bisa mengevaluasi. Misalnya apa yang dilakukan selama 2014 – 2019, apakah sudah mengarah untuk mewujudkan cita-cita tersebut? Jangan sampai sibuk bekerja tapi tidak tahu ke mana arahnya. Jadi Badan Litbang dan Biro Perencanaan Kementan harus merumuskan itu semua sehingga memudahkan daerah untuk melaksanakannya karena lahan pertanian itu adanya di daerah, bukan di pusat. Demikian juga stakeholder lainnya enak mengikutinya seperti Perum Bulog, Pupuk Indonesia, penyedia sarana produksi, dan pembiayaan. Rencana yang disusun untuk mewujudkan cita-cita tersebut terkesan bersifat dominasi pemerintah. Semua program seolah-olah akan dilakukan pemerintah. Untuk mewujudkan lumbung pangan dunia tidak bisa semuanya dilakukan pemerintah dengan hanya melibatkan petani kecil. Memang SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih dalam hal ini pemerintah perlu diapresiasi keberpihak – annya pada petani kecil. Apakah Indonesia punya pengalaman? Kita punya pengalaman atas tiga revolusi. Perta – ma, green revolution yaitu swasembada beras pada 1984.

Hal itu terwujud atas kerjasama yang baik antara petani dengan pengusaha (industri pupuk, industri pestisida dan Bulog), dalam bimbingan pemerintah. Kedua, kesuksesan swasembada ayam negeri. Bahkan saat saya menjabat Menteri Pertanian kita pernah meng – ekspor produk ayam. Semua itu karena ada nya kemi – traan yang baik antara peternak rakyat, pengusaha, serta pemerintah. Awalnya hanya dikembangkan pemerintah tapi tidak berhasil. Namun setelah mengajak para pengusaha dan peternak rakyat, swasembada ayam terwujud. Dan ketiga, revolusi sawit yang dimulai dari kerjasama antara PTPN dengan petani plasma, lalu datang para pengusaha swasta dan petani mandiri. Sekarang kita jadi raja sawit dunia karena ada kerjasama antara para petani, pengusaha (pengusaha industri sawit, saprotan, pendanaan, dan lainnya), dan pemerintah. Dan sekitar 45% dari total sawit tersebut ada di tangan petani. Kata kunci keberhasilan tiga revolusi itu adalah kemitraan. Tapi pada perencanaan yang dibuat Kementan mengenai lumbung pangan mengabaikan kemitraan dengan tidak mengikutsertakan pengusaha. Kita tidak akan dapat menjadi lumbung pangan jika hanya meng – harap petani kecil yang melakukannya. Pemerintah juga tidak akan mampu melakukannya sendiri jika dilihat dari faktor bujet.

Pemerintah harus mengembangkan program kemitraan dengan para pengusaha yang kadang kala memiliki bujet lebih besar dibandingkan bujet satu kementerian. Jadi kita tidak bisa menjadi lumbung pangan dunia bila hanya mengandalkan petani kecil. Kita beruntung memiliki BUMN yang kuat di perkebunan, pupuk, bank, dan Bulog, tapi tidak cukup hanya dengan BUMN. Kita sudah punya aset sebagai bangsa yang luar biasa besarnya yaitu pengusaha kecil, menengah, dan besar. Dengan konsep sinergi kemitraan niscaya Indonesia dapat menjadi salah satu lumbung pangan dunia 2045.